Kamis, 18 April 2013

Lupa hingga santai

Tak merasa kalau angin subuh telah memperingatkanku “pulang, dan istirahatlah” mungkin itu yang kudengar dari angin yang tampa wujud itu,. Aku bersama kawan sedang sibuk sendiri menghadap laptop kecil ber muka dua, senang dengan beberapa akun di dunia maya yang kembali bisa di isi dan di perbaiki, menjadi semangat tersendiri di didalam diri ku, terpacu, bergumam dengan pastinya, tak ingat kalau itu ramai tak mau tau kalau itu banyak orang, sampai tak peduli dengan semua itu. Tak tahu sudah berapa kopi yang kupesan, rokok yang kuambil, dan cemilan yang kumakan, dan itu semua berujung hutang.
Hingga badang sudah merasa menggigil dan pikiran pun malas, ahkirnya diputuskan untuk pulang di sekber gelap yang selalu gelap dan akan terus gelap.

Pulang dengan dalih melanjutkan hal tadi tapi malah malasnya bagaikan kudis, semakin banyak dan bertambah, dan ahkirnya tidur menjadi wacana yang harus dilakukan bersama, sehabis menjalankan wacana. Ternyata hari sudah setengah bekerja sehingga membuatku malu dengan gelar proletarku ini, sampai aku sendiri tersirat bahwa aku sekarang ada janji dengan teman di Surabaya, lah sementara aku masih dimadura, hingga ada beberapa sms, tapi tak seperti yang kukira volume seringnya, aku langsung menluncur dengan fikiran hujan badai panas terik, ternyata tebakan ku benar, madura yang panas separoh suramadu yang pekat oleh kabut menjalar bagaikan taman jurrasik park yang di film, aku putuskan untuk tetap menemui temanku yang dari fajar hingga mentari berdiri sendiri telah menungguku, basah, pusing, gatal, panas kena tetesan air yang besar-besar, dengan berkelok-kelok dan tak memikirkan apapun aku sampai di gerbang masuk gang rumah belakang penuh teriakan itu sampailah aku disambut dengan suguhan ala alay, dan teman sepasanganya yang aneh, aku menemui temanku karena tugas Pkn yang aku usulkan untuk melakukan observasi la fikiranku yang muluk-muluk tentang observasi ini melah menjadi pukulan balik buatku, hingga berakhir di sebuah warung penyet yang penuh dengan wajah garang pinggiran jalanan surabaya, sampek makanan dan kopi habis temanku pun mengajak ngobrol dengan memberi garam pada roti yang penuh gula, kira kira itu yang aku lakukan saat mengobrol dengan temanku yang begitu serius menanggapiku yang kekenyangan saat sehabis makan.

Tapi aku pun waktu itu jadi rada binggung dengan rencana habis makan, aku tanya habis ini mau kemana malah jawabanya terserah, wah ini susah, tapi dengan malas aku jawab ayo pulang, hingga bersandingan dengan motor lalu menggucapkan”sampai nanti”, dan itulah aku kebinggungan mau pulang, tapi aku ngerasa belum waktunya pulang jadi aku putuskan mampir ke Pakde D albo, sms yang langsung menuju hape dengan 10 kali kecepatan cahaya berbeda dengan kecepatan motorku yang 40 km per jam, hingga sampai.
Sesaat aku bertegur sapa dengan keluarga pakde dalbo yang ramah, seakan aku jarang menemukanya, sampai berujung pada warung kopi di dekat danau buatan yang pernah memakan korban yang seakan menyeramkan dan itu berada di belakang kami, dan segerombolan bujang lapar beserta mamalia cantik yang siap produksi sedang terlunta dijalanan, hingga muncul sesosok anjing jalanan ber seragam yang mebawa motor, polisi menjadi momok kejam saat bertugas.
Load disqus comments

0 komentar